Beratnya Kala Ulama Berhutang Budi

Beratnya Kala Ulama Berhutang Budi

Jum'at, 25 Desember 2009 19:20 WIB | 5.353 Views 2009-12-25 19:20:17

Disadari atau tidak semua orang pasti mengalami yang namanya hutang budi, bukan berhutang kepada si Budi tetapi berhutang kepada seseorang. Dimana hutang itu tidak hanya bersifat materi saja seperti uang dan barang tetapi juga pertolongan-pertolongan lain yang pernah diberikan. Hutang budi bisa menimpa siapa saja, tidak mengenal usia ataupun jenis kelamin dan tidak pula mengenal profesi seseorang, baik itu seorang presiden hingga pemulung sampah dipinggiran kota. Tidak terkecuali adalah untuk seorang ulama, sungguh berat ketika ulama sudah berhutang budi. Kenapa?

Jika seorang presiden mampu terpilih kembali menjadi presiden untuk periode berikutnya sudah dipastikan ada budi para pendukungnya khususnya partai pengusungnya, makanya kita kenal dengan istilah politik balas budi akhir-akhir ini. Terkadang presiden yang bijak bisa membedakan mana yang harus dibalas dan mana yang sesuai prinsip, jangan sampai sebuah keputusan penting bisa menjadi kacau balau karena ingin balas budi ke partai pengusung.

Namun ketika hutang budi kepada seorang ulama ini yang akan menjadi berat dan susah, ulama disini saya tidak batasi hanya kepada seorang kiayi ataupun ustadz namun saya perluas definisinya menjadi orang-orang yang berilmu, khusunya ilmu agama. Hutang budi bisa menjadi buah simalakama bagi ulama, hanya ulama-ulama yang bijak dan teguh pendirian yang dapat mengatasinya.

Contoh sederhana jikalau ada seorang ulama yang memiliki ketergantungan secara ekonomi kepada seseorang, ataupun jangan jauh-jauh sampai ketergantungan, sering dibantu saja sudah membuat pusing dan menjadi bingung jikalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan agama islam yang terjadi pada orang yang memberikan budi. Terkadang langkah itu terhenti ketika ingat jasa-jasa yang telah diberikan kepada dirinya itu sehingga apa yang disampaikannya hanya dapat menyentuh tingkat pemahaman keislaman yang umum dan tidak dapat berkata-kata ketika ada sesuatu yang disampaikan yang cukup saklek, atau berat.

Ulama yang baik adalah ulama yang dapat memisahkan antara balas budi dengan suatu kewajiban untuk mengingatkan. Seorang ulama harus yakin bahwa yang benar wajib disampaikan dan yang salah harus diperbaiki walaupun kepada seseorang yang sudah menopang hidupnnya, secara saerat, karena sebetulnya hanya jalan Allah memberikan rizki. Ketika ada keraguan untuk mengingatkan sang pemberi budi sudah dipastikan semuanya akan menjadi bias karena ketakutan kran rizki akan sedikit mampet terlebih-lebih jika pemberi budi tidak suka diperingati ataupun diingatkan untuk hal-hal tertentu.

Siapapun sahabat yang baca, baik sahabat seorang ulama atau bukan, ketika sahabat berhutang budi kepada seseorang adan seseorang itu melakukan salah, jangan takut untuk mengingatkannya. Semuanya harus dilandasi rasa sayang dan cinta, Karena hakekatnya mengingatkan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik adalah tanda cinta dan sayang seseorang dan pastikan cukup Allah yang menjadi penolong, Wallahualam bissowab, Mudah-mudahan bermanfaat.

Adi Sumaryadi Online Media




Berikan Komentar Via Facebook

Berikan Komentar Via Disqus
comments powered by Disqus

Islam dan Seputarnya Lainnya
Luar Biasanya Bagaimana Al Quran Menggambarkan Gempa
Kamis, 03 September 2009 20:44 WIB
Luar Biasanya Bagaimana Al Quran Menggambarkan Gempa
Jujur saja gempa ini merupakan gempa yang benar-benar terasa selama hidup saya, dan mudah-mudahan tidak terjadi kembali diesok hari kedepan. Tepat terjadinya gempa diri terasa sangat kaget hanya dapat berucap takbir, setelah beberapa saat reda saya baru bisa mendengarkan satu-satunya radio yang bisa didengar informasinya dan sangat kaget ketika ternyata gempa terjadi di pantai selatan, pikiran tidak karuan semakin menguat ketika handphone mamah dan handphone bapa tidak ada yang dapat dihubungi satupun, akhirnya setelah beberapa saat alhamdulillah bisa dihubungi.
Tips Kalau Tidak Ingin Sholat.
Selasa, 19 Mei 2009 06:01 WIB
Tips Kalau Tidak Ingin Sholat.
Suatu ketika saya berkesempatan untuk pulang ke Pangandaran, sebuah kampung halaman yang sangat saya cintai. Ketika itu saya mendapat kabar bahwa tetangga kami, namanya Purnomo dan biasa saya panggil dengan panggilan Pak Pur. Sedih sekali rasanya karena saat ini beliau sudah mulai hilang ingatan, senyum sendiri walaupun tak ada teman. Penyebabnya adalah karena sering dijebak oleh teman-temannya di Pantai untuk minum-minuman keras dan memakai narkoba. Suatu ketika ada ibu-ibu tetanggaku sedang berkumpul dan selidik punya selidik sedang membicarakan Pak Pur, namun alangkah kagetnya orang yang sedang dibicarakan muncul tiba-tiba dan dengan kepedeannya langsung berkata
Ramadhan tiba, kebiasaan lama pun tiba
Rabu, 12 September 2007 08:15 WIB
Ramadhan tiba, kebiasaan lama pun tiba
Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci dan bulan penuh berkah. Ketika ramadhan dimulai banyak orang yang mempunyai kebiasaan lama muncul kembali, kenapa saya katakan kebiasaan lama, karena biasanya dibulan-bulan yang lain kebiasaan itu tidak muncul sama sekali, ada kebiasaan buruk dan ada kebiasaan yang baik. Sebenarnya apa saja sih kebiasaan itu, baca selengkapnya.
Antara Dakwah dan Teknologi, Bagian Kedua
Kamis, 06 September 2007 06:50 WIB
Antara Dakwah dan Teknologi, Bagian Kedua
Seorang penyanyi dangdut yang selalu membawakan lirik-lirik islami dalam setiap lagunya yaitu Rhoma Irama memandang bahwa semua yang telah dilakukannya adalah merupakan salah satu dari dakwah. Penyanyi lainnya yang sering muncul dengan Sholawat atas nabinya yaitu Haddad Alwi juga berpendapat demikian bahwa melalui lirik-lirik nasyid yang dinyanyikannya beliau bisa menyampaikan pesan islami kepada pendengarnya.
Poligami, Seolah Olah Ada "Hukum Allah" Yang Salah
Rabu, 25 Juli 2007 12:30 WIB
Poligami, Seolah Olah Ada "Hukum Allah" Yang Salah
Tadi Pagi sempat sedikit perasaan ingin masuk sebuah room di Bandung lewat chatting berharap ada temen-temen yang masuk beri informasi seputar apa yang ku kerjakan saat ini, e-commerce, namun ternyata ada seorang perempuan, beliau adalah Pramugari di Garuda, sempat chat sebentar, karena beliau menyapa duluan, tidak sengaja membahas poligami Aa Gym kembali karena beliau tau saya bekerja di Aa Gym, ada satu hal yang menarik yang perlu kita lihat, baca selengkapnya
Antara Dakwah dan Teknologi, Bagian Pertama
Sabtu, 21 Juli 2007 05:50 WIB
Antara Dakwah dan Teknologi, Bagian Pertama
Kumpulan sejarah yang telah kita baca dan kita dapatkan telah membuktikan bahwa peran teknologi dalam kehidupan sangatlah besar. Kita mendengar bagaimana Rosullah menang dalam perang parit yang syariatnya lewat implementasi strategi dan teknologi baru dalam berperang yang disampaikan oleh Salman Al farisi. Kita juga diingatkan bagaimana sebuah karikatur Rosullullah yang kita kecam tersebar kesesuluruh dunia melalui teknologi media dan informasi hingga menyebabkan islam hadir dalam satu suara “kecam”, dan bahkan kita masih ingat bagaimana seseorang masuk penjara karena layanan pesan pendek yang dikirim oleh sebuah alat teknologi komunikasi yang benama handphone atau telephone genggam.