Islam dan Seputarnya
Sekali-kali Maksiat Ah... Cuma Sekali Kok

Sekali-kali Maksiat Ah... Cuma Sekali Kok

Sabtu, 02 April 2011 20:50 WIB | 4.950 Views | Comments 2011-04-02 20:50:55

Suatu ketika ada dua orang kakak beradik yang mempunyai kehidupan yang amatlah kontras, keduanya tumbuh dengan lingkungan masing-masih bahkan seolah tidak ada ciri bahwa mereka berdua adalah sebuah keluarga, maklum saking bedanya. Kakaknya yang tua dengan kehidupan agama yang kental sedangkan adiknya dengan kehidupan urak-urakan.

Kakaknya lebih terlihat rajin dalam beribadah, tak tanggung hampir semua sholat wajib jarang terlewatkan kemasjid, bahkan bisa digolongkan sebagai pemakmur masjid. Kehidupannyapun dikenal ramah dan baik hati, tidak sedikit orang yang menaruh perhatian khusus kepadanya. Namun kehidupannya begitu alim tidak pantas membuat adiknya mengikuti dirinya bahkan kebalikannya.

Adiknya hidup dengan gaya "modern" kebablasan, kerjaan setiap harinya adalah maksiat  dan maksiat, pub-pub malam menjadi tempat favoritnya, tempat karoeke dipusat-pusat kota menjadi singgahannya, kehidupannya dikelilingi wanita-wanita yang cantik dan seksi. Banyak uang memang, karena secara dunia adiknya ternyata lebih sukses dengan mengumpulkan banyak uang.

Suatu ketika Sang Kakak termenung sejenak, memikirkan langkah hidup yang dijalaninya saat ini. Hidup penuh dengan pujian akibat selendang "kesolehan" yang disandangnya, entah setan darimana tiba-tiba terbersit untuk mengetahui dan mencoba kehidupan adiknya, "Ah saya coba seperti apa sih rasanya maen di pub-pub malam dan tempat karoeke, sekali saja kok...". Selepas sore diapun berangkat ke suatu pub yang jaraknya tidak jauh dari mesjid, sekitar 1 km. Ternyata tak hanya masuk, lingkungan yang sudah tidak kondusif itu membuat dirinya ada yang menawari rokok, tidak lama setelah merokok, segelas minuman disodorkannya, mabuklah ia, wajar memang karena selama ini tidak pernah sekalipun mabuk.

Disaat yang sama, sang adikpun ternyata sedang merenung, dia memikirkan apa yang sudah dilakukannya selama ini, entah terlintas dari mana iapun menuju kemesjid dan mengambil air wudlu, sholatlah ia dua rakaat. Setelah itu terlihat tetesan air mata mengalir dari matanya. Merenungi, bertaubat dan minta ampun kepada Allah atas apa yang dia lakukan selama ini. Tak henti -hentinya dalam menangis....tiba tiba..

Duaaaaaar...bumi bergetar diguncang gempa yang menghancurkan wilayah itu kurang dari 3 menit...

Setelah gempa reda, warga yang selamatpun bergegas menolong korban-korban yang tertimpa rerentuhan. Alangkah kagetnya warga setelah mengetahui di reruntuhan pub malam itu ada sang kaka yang tewas terhimpit bangunan, tanpa busana dan ditemani seorang wanita yang tewas pula, masih tercium aroma alkohol dimulutnya. Kekagetan warga bertambah setelah ternyata dipuing-puing masjid, ditemukan adiknya meninggal pula dengan keaadaan bersujud yang tidak sempurna akibat menahan beban reruntuhan, sebuah Al Quran tidak jauh dari tangannya.

Kisah tadi semoga menjadi inspirasi kita, kita tidak tau perhitungan Allah kelak seperti apa, hal yang terpenting untuk kita adalah Janganlah kita turuti keinginan kita untuk melakukan maksiat, bahkan sekalipun. Namun ketika terbersit untuk melakukan kebaikan, maka segeralah melangkah. Mudah-mudahan kita digolongkan kedalam orang-orang yang mati dalam keadaan husnul khatimah dan dijauhkan dari Suul khotimah, Amiin.

Adi Sumaryadi - Bicara IT dan Internet






Islam dan Seputarnya Lainnya
Beratnya Kala Ulama Berhutang Budi
Jum'at, 25 Desember 2009 19:20 WIB
Beratnya Kala Ulama Berhutang Budi
Disadari atau tidak semua orang pasti mengalami yang namanya hutang budi, bukan berhutang kepada si Budi tetapi berhutang kepada seseorang. Dimana hutang itu tidak hanya bersifat materi saja seperti uang dan barang tetapi juga pertolongan-pertolongan lain yang pernah diberikan. Hutang budi bisa menimpa siapa saja, tidak mengenal usia ataupun jenis kelamin dan tidak pula mengenal profesi seseorang, baik itu seorang presiden hingga pemulung sampah dipinggiran kota. Tidak terkecuali adalah untuk seorang ulama, sungguh berat ketika ulama sudah berhutang budi. Kenapa?
Luar Biasanya Bagaimana Al Quran Menggambarkan Gempa
Kamis, 03 September 2009 20:44 WIB
Luar Biasanya Bagaimana Al Quran Menggambarkan Gempa
Jujur saja gempa ini merupakan gempa yang benar-benar terasa selama hidup saya, dan mudah-mudahan tidak terjadi kembali diesok hari kedepan. Tepat terjadinya gempa diri terasa sangat kaget hanya dapat berucap takbir, setelah beberapa saat reda saya baru bisa mendengarkan satu-satunya radio yang bisa didengar informasinya dan sangat kaget ketika ternyata gempa terjadi di pantai selatan, pikiran tidak karuan semakin menguat ketika handphone mamah dan handphone bapa tidak ada yang dapat dihubungi satupun, akhirnya setelah beberapa saat alhamdulillah bisa dihubungi.
Tips Kalau Tidak Ingin Sholat.
Selasa, 19 Mei 2009 06:01 WIB
Tips Kalau Tidak Ingin Sholat.
Suatu ketika saya berkesempatan untuk pulang ke Pangandaran, sebuah kampung halaman yang sangat saya cintai. Ketika itu saya mendapat kabar bahwa tetangga kami, namanya Purnomo dan biasa saya panggil dengan panggilan Pak Pur. Sedih sekali rasanya karena saat ini beliau sudah mulai hilang ingatan, senyum sendiri walaupun tak ada teman. Penyebabnya adalah karena sering dijebak oleh teman-temannya di Pantai untuk minum-minuman keras dan memakai narkoba. Suatu ketika ada ibu-ibu tetanggaku sedang berkumpul dan selidik punya selidik sedang membicarakan Pak Pur, namun alangkah kagetnya orang yang sedang dibicarakan muncul tiba-tiba dan dengan kepedeannya langsung berkata
Ramadhan tiba, kebiasaan lama pun tiba
Rabu, 12 September 2007 08:15 WIB
Ramadhan tiba, kebiasaan lama pun tiba
Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci dan bulan penuh berkah. Ketika ramadhan dimulai banyak orang yang mempunyai kebiasaan lama muncul kembali, kenapa saya katakan kebiasaan lama, karena biasanya dibulan-bulan yang lain kebiasaan itu tidak muncul sama sekali, ada kebiasaan buruk dan ada kebiasaan yang baik. Sebenarnya apa saja sih kebiasaan itu, baca selengkapnya.
Antara Dakwah dan Teknologi, Bagian Kedua
Kamis, 06 September 2007 06:50 WIB
Antara Dakwah dan Teknologi, Bagian Kedua
Seorang penyanyi dangdut yang selalu membawakan lirik-lirik islami dalam setiap lagunya yaitu Rhoma Irama memandang bahwa semua yang telah dilakukannya adalah merupakan salah satu dari dakwah. Penyanyi lainnya yang sering muncul dengan Sholawat atas nabinya yaitu Haddad Alwi juga berpendapat demikian bahwa melalui lirik-lirik nasyid yang dinyanyikannya beliau bisa menyampaikan pesan islami kepada pendengarnya.
Poligami, Seolah Olah Ada "Hukum Allah" Yang Salah
Rabu, 25 Juli 2007 12:30 WIB
Poligami, Seolah Olah Ada "Hukum Allah" Yang Salah
Tadi Pagi sempat sedikit perasaan ingin masuk sebuah room di Bandung lewat chatting berharap ada temen-temen yang masuk beri informasi seputar apa yang ku kerjakan saat ini, e-commerce, namun ternyata ada seorang perempuan, beliau adalah Pramugari di Garuda, sempat chat sebentar, karena beliau menyapa duluan, tidak sengaja membahas poligami Aa Gym kembali karena beliau tau saya bekerja di Aa Gym, ada satu hal yang menarik yang perlu kita lihat, baca selengkapnya