Aktual dan Umum
Benarkah Sensor Internet Seharga 211M Terlalu Mahal dan Sia-Sia?

Benarkah Sensor Internet Seharga 211M Terlalu Mahal dan Sia-Sia?

Oleh | Kamis, 09 Agustus 2018 06:20 WIB | 571 Views | Comments 2018-08-09 06:20:04

Tulisan ini saya buat karena cukup geli dengan komentar beberapa netizen yang menganggap bahwa kenapa harus ada sensor internet, terlalu mahal itu, lebih baik untuk subsidi masyarakat dalam membeli pulsa dan kuota internet, ngapain sensor-sensor kan bisa di baypass menggunakan proxy atau VPN? 

Angka yang memang bagi saya sangat besar, bayangkan 211 Milyar kalau di recehkan seberapa banyak? Namun, bagi kita yang awam tentang bagaimana sebuah jaringan internet bekerja tentu akan melihat angka itu sangatlah besar apalagi dianggap sia-sia karena melakukan sensor internet. 

Dulu sebelum ramai-ramai sensor Internet dan DNS Nawala belum ada, saya sempat berbincang dengan seorang pemilik ISP di Jakarta. Ia mengatakan tidak setuju dengan sensor internet, tapi bukan karena "ketidaksetujuannya" terhadap filtering akses situs-situs porno, situs penipuan, situs perjudian dan yang lainnya, melainkan karena biaya untuk sensor internet itu mahal. Jika dianalogikan sederhana, jaringan internet yang tanpa sensor ibarat ribuan orang mau lewat melalui sebuah jalan, anggaplah jalan ini adalah pita internet, jika tanpa sensor maka tidak ada yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang tadi, semuanya dipersilahkan lewat. Namun, bila ada filtering maka setiap orang yang lewat akan ditanya mau kemana? cari apa? bila ternyata mau ke tempat yang berbahaya maka tidak diperbolehkan, akibatnya butuh tenaga baru untuk melakukan hal itu. Secara sederhana ia menjelaskan seperti itu.

Dalam bahasa teknis, filtering internet dilakukan disisi DNS (Domain Name Services), DNS ini berfungsi untuk mentranslasi sebuah alamat domain misalkan (adisumaryadi.com) menjadi alamat IP Address dan selanjutnya meneruskan request yang diminta kepada IP yang dituju. Pada proses ini, setiap request yang diminta akan dicocokan dengan database blacklist (daftar alamat situs yang diblock), jika dilarang maka request ditolak atau diarahkan ke situs yang lain. Ada juga yang blokir sebuah situs melalui Proxy Server, prinsip kerjanya sama, hanya saja yang bekerja untuk melakukan filtering adalah proxy server.

Untuk membangun infrastruktur filtering memang tidak murah, menurut Teh Ai Rangkuti (IDC Indonesia), perangkat jaringan di tingkat Exchange itu sangat mahal, termasuk yang ada di ISP-ISP, ada alat yang harganya milyaran, dan saya pikir memang benar adanya. Alat yang mampu meneruskan trafik sebegitu besar dan pada saat yang sama harus melakukan filtering. Filtering internet sebenarnya dilakukan oleh ISP (Internet Service Provider) di jaringan-jaringan mereka, namun data blacklist ini tentunya berasal dari pemerintah, tidak punya cukup tenaga untuk ISP melakukan listing situs-situs yang berbahaya. Selain biaya pembelian alat sensor, banyak biaya lain yang harus dikeluarkan dalam upaya sensor Internet ini seperti biaya SDM, biaya perawatan perangkat, biaya sosialisasi kepada ISP-ISP dan juga sosialisasi kepada masyarakat. Jadi angka 211 M buat saya adalah biaya yang wajar, terkecuali bila angka itu dikorupsi setengahnya :(.

Diluar itu semua, sensor internet menurut saya adalah hal yang memang harus dilakukan oleh pemerintah, yang ada ketakukan di masyarakat adalah ketakutan situs-situs yang bersebrangan dengan pemerintah ikut diblok juga. Pemerintah tentu harus benar-benar bisa meyakinkan masyarakat tentang hal ini dan fokus kepada situs-situs yang secara nyata merusak anak-anak kita. Anak jaman sekarang sudah bisa akses apapun dari handphone mereka yang didapat dari orang tuanya, apakah orang tua punya waktu penuh untuk mengontrol semua yang diakses anak? tentu tidak bisa dan sensor internet inilah yang diperlukan. Biaya 211 Milyar rasanya terlalu kecil bila dibandingkan dengan baiknya generasi selanjutnya. Biarkanlah pemerintah hadir dan bekerja, yang sebenarnya membantu kita. 

Sebagai upaya untuk mengurangi beban sensor Internet, yuk kita lakukan self sensor (sensor pribadi) untuk konsisten membuka situs yang baik dan bermanfaat, mengingatkan anak-anak kita, mengingatkan sodara kita akan internet yang sehat. Saya yakin, bila trafik internet kita "baik", maka buat apa sensor internet dilakukan?

Adi Sumaryadi - Bicara IT dan Internet






Aktual dan Umum Lainnya
Tweet MenKominfo: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?
Jum'at, 31 Januari 2014 06:58 WIB
Tweet MenKominfo: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?
Baik, sebelum lebih jauh melihat judul yang ada terlebih dahulu saya bercerita sedikit tentang kecepatan internet. Jangan lihat statistik dulu karena pasti anda juga bisa menebak kita termasuk negara dengan tingkat kecepatan akses internet yang cukup lambat.
Palestina Tidak Butuh Bantuan Milisi, Lalu Apa?
Selasa, 06 Januari 2009 06:07 WIB
Palestina Tidak Butuh Bantuan Milisi, Lalu Apa?
Sudah lebih sepekan Israel Terus Menggempur Palestina, Korbanpun Berjatuhan, Berbagai unjuk rasa terjadi serentak hampir diseluruh dunia, tidak terkecuali di Negara Israel itu Sendiri,banyak masyarakat indonesia yang berniat untuk menjadi milisi dengan kata lain mereka siap untuk berjihad fisabilillah. Luar biasa. Tetapi ternyata setelah membaca wawancara dengan Dubes Palestina Untuk Indonesia yaitu Fariz Mehdawi saya baru paham apa yang sebenarnya dibutuhkan palestina
Butuh Orang Kreatif di Dunia Teknologi Informasi
Kamis, 29 Mei 2008 10:05 WIB
Butuh Orang Kreatif di Dunia Teknologi Informasi
Indonesia tidak diragukan lagi menjadi salah satu negara yang tumbuh pesat pertumbuhan teknologi informasi, rekayasa perangkat lunak mulai dari sistem operasi hingga aplikasi pendukungnyapun mulai tumbuh. Kita sering mendengar banyaknya distro linux hasil kembangan anak-anak indonesia, bahkan tidak sedikit dari putra bangsa mulai menunjukan giginya (unjuk gigi) di kancah internasional tentang kemajuan bidang ristek khusunya Teknologi Informasi.
Mempertanyakan Kebenaran Berita "Penggandaan Website BNP TKI"
Selasa, 10 Juli 2007 09:27 WIB
Mempertanyakan Kebenaran Berita "Penggandaan Website BNP TKI"
Jika sahabat membaca koran Tempo Hari ini (10 Juli 2007) akan menemukan berita yang membahas tentang penggandaan situs Badan Nasionan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), ada beberapa komentar pakar teknologi informatika yang beragam. Namun saya termasuk orang yang sangat menyangkan beberapa statement yang diberikan, ada beberapa hal teknis yang kemungkinan tidak diketahui sehingga berkomentar seperti itu, penasaran? baca selengkapnya
Alasan Kenapa Aa Gym Menikah Lagi
Minggu, 08 April 2007 23:50 WIB
Alasan Kenapa Aa Gym Menikah Lagi
Kabar menikahnya Aa Gym untuk kedua kalinya telah menjadi kabar yang luar biasa besar hingga mengalahkan rating berita lumpur lapindo, banyak yang SMS dan telephone ke saya mengenai kebenaran berita itu dan saat itu saya hanya baru bisa menjawab bahwa nanti saya tunggu Aa yang bicara karena bukan hak saya untuk menyampaikan hal ini. Benar memang berita itu dan saya tidak bisa menghitung berapa orang yang kecewa, berapa orang yang support dan berapa orang yang berubah membenci sosok Abdullah Gymnastiar.
Pengelola Domain ID Pindah Lagi
Minggu, 08 April 2007 23:36 WIB
Pengelola Domain ID Pindah Lagi
Rasanya sudah biasa kalau CTLD yang satu ini berpindah-pindah yang ngurus dan telinga kitapun sudah terbiasa mendengar berbagai konflik yang terjadi dalam pengelolaan domain berektensi ID ini. Mulai dari jemarinya pa Budi Rahadjo dan teman-teman yang kemudian diusik ketenangan oleh Organisasi perhimpunan ISP di negeri ini, APJII hingga akhirnya jatuhlah si domain id ketangan pemerintah, nah denger-denger sekarang akan pindah lagi pengelolanya dan kemungkinan tidak gratis lagi seperti sekarang. Baca selengkapnya aja !