Sudut Pandang
Menebak Langkah Tiongkok Setelah Akuisisi Marketplace-Marketplace Indonesia

Menebak Langkah Tiongkok Setelah Akuisisi Marketplace-Marketplace Indonesia

Oleh | Selasa, 24 Oktober 2017 13:18 WIB | 1.192 Views 2017-10-24 13:18:29

Namanya juga bisnis global, dan Indonesia sudah menjadi bagian didalamanya tanpa kita sadari. Perusahaan Indonesia beberapa diantaranya sudah diakuisisi oleh perusahaan Tiongkok. Mereka masuk Indonesia dengan Ribuan bahkan jutaan dollar amerika untuk membeli marketplace yang mulai tumbuh di Indonesia. Hanya sekedar menebak-nebak, mungkinkan beberapa hal ini yang menjadi dasar mereka membeli marketplace Indonesia?

Murni Bisnis
Bisnis tak kenal waktu dan tempat, kapanpun bisa lakukan dan dimanamun bisa dilakukan. Bahasa invasi bisnis sering kita dengar bila ada investasi besar-besaran dari satu negara ke negara lain. Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan Tiongkok bisa jadi memang bisnis semata. Mereka butuh investasi karena uang mereka berlebih, mereka butuh mengembangkan pasar lebih luas lagi tidak hanya pasar domestik mereka. Dalam hal ini, ada istilah siapa kuat dia yang selamat, siapa yang punya uang besar maka dia yang akan menguasai pasar, termasuk mengakuisisi perusahaan yang berproduk marketplace di tanah air kita ini.

Big Data
Pernah membayangkan berapa orang yang menggunakan keseluruhan marketplace di Indonesia? berapa transaksi yang dilakukan setiap detiknya? setiap harinya? itulah Big Data. Saya pikir mereka sangat berkepentingan dengan ini, mereka butuh pemetaan orang Indonesia, butuh data orang Indonesia. Bagaimana prilaku berbelanjanya, barang apa yang dibutuhkannya? kemampuan dan daya beli orang Indonesia. Jauh dari sana, orang Tiongkok akan memproduksi barang-barang itu dengan gaya produksinya yang murah meriah, mirip dan kualitas cukup, tidak harus ideal. Akibatnya, produk-produk UMKM di Indonesia harus bersaing kuat dengan produk Tiongkok.

Membunuh Perusahaan Lokal
Sebenarnya saya masih bingung memilih kata yang tepat untuk kata "membunuh", tapi pada prinsipnya begini. Setiap perusahaan Tiongkok yang masuk Indonesia biasanya tidak jalan sendiri. Mereka akan bawa "teman-teman" atau keluarganya dalam satu gerbong. Semisal, Alibaba masuk ke Indonesia, maka Alibaba akan membawa Alipay untuk solusi pembayarannya, akan membawa Alibaba Express juga. Begitu juga JD masuk Indonesia, kemungkinan akan membawa bisnis turunan lainnya semisal kurirnya, maka jangan aneh ketika di beberapa marketplace bisa free ongkir. Dengan begitu, perusahaan yang bergerak dalam Payment Gateway atupun ekspedisi harus pula bersaing dengannya, alhasil karena kurang modal lama-lama koma dan akhirnya titik.

Membawa Orang Tiongkok Masuk Indonesia
Saya masih teringat kata-kata Menko Maritim, katanya Tiongkok itu sedang berinvestasi besar di Indonesia, mereka punya target dan orang indonesia tidak ada yang kompeten untuk mencapai target itu. Benar atau tidaknya penafsiran saya, rasanya pas juga bila dihubungkan dengan akuisisi beberapa startup dan marketplace di Indonesia, apa yang mereka keluarkan sebagai investasi tentu tidak mau rugi. Mau tidak mau, mereka harus menyimpan orang, setidaknya untuk mengawasi atau masuk dalam susunan BOD perusahaan yang diakuisisi. Secara tidak langsung mereka membawa orang Tiongkok masuk ke Indonesia, hanya jika setingkat BOD pasti jumlahnya tidak akan banyak.

Apapun dasar, strategi Tiongkok dengan mengakusisi banyak perusahaan di Indonesia adalah hal yang wajar karena bisnis global telah dibuka. Maka pertanyaannya adalah kembali kepada kita, sudah bisa apakah kita? bagaimana produk kita? bagaimana kita mencintai produk kita? mampukah kita bersaing? jawabannya hanya kita yang menjawab.

Adi Sumaryadi - Bicara IT dan Internet




Berikan Komentar
comments powered by Disqus

Sudut Pandang Lainnya
Melihat Macan Lucu Cisewu Dari Sudut Pandang Potensi Pariwisata
Rabu, 22 Maret 2017 07:06 WIB
Melihat Macan Lucu Cisewu Dari Sudut Pandang Potensi Pariwisata
Tidak terhitung jumlah viral yang memberitakan macan lucu yang ada didaerah Cisewu Kabupaten Garut, Jawa Barat, bahkan ketenarannya melewati tenarnya Domba Garut yang sudah lama menjadi Icon kota garut itu. Lalu bagaimana Macan Imut itu saya liat dari sudut pandang potensi pariwisata?
Majelis Ulama Indonesia, Tak Hanya Sekedar Sertifikat Halal
Rabu, 01 Februari 2017 19:22 WIB
Majelis Ulama Indonesia, Tak Hanya Sekedar Sertifikat Halal
Saya selalu bertanya terlebih dahulu ketika akan makan sesuatu di Mal kalau sedang bersama istri, dan istripun selalu mengingatkan untuk bertanya dulu apakah sudah ada sertifikat halal belum dari MUI, jika belum kami selalu menahan rasa ingin untuk makan makanan itu walaupun terlihat sangat lezat.
Timeline Facebook yang Tak Lagi Asik dan Membuat Stress
Jum'at, 25 November 2016 05:06 WIB
Timeline Facebook yang Tak Lagi Asik dan Membuat Stress
Terhitung sejak menjelang pemilihan presiden tahun 2014 saya rasakan timeline facebook tidak lagi nyaman untuk dibaca, untuk discroll terus menerus hingga tak berujung, tentu ini bukan hal aneh karena memang kenyataanya Timeline facebook menggambarkan keaadaan lingkungan kita saat ini.
Mengangkat Kreativitas Anak Negeri Dalam Iklan Capres
Rabu, 24 September 2014 19:21 WIB
Mengangkat Kreativitas Anak Negeri Dalam Iklan Capres
Pilih saya kalau ingin Indonesia berubah lebih baik, pilih saya kalau anda ingin sejahtera, begitulah kira-kira kalau kita generalisir konten yang tersaji dari sebuah iklan capres yang tayang beberapa waktu yang lalu hampir menghiasi media televisi baik lokal maupun nasional.
Televisi Lokal Bandung Rasa Nasional
Sabtu, 09 Agustus 2014 08:35 WIB
Televisi Lokal Bandung Rasa Nasional
Dominasi televisi nasional terus menggurita sepertinya, bahkan beberapa televisi lokal yang saya lihat di Bandung mulai berasa Nasional, acara-acara didominasi oleh siaran televisi nasional baik itu dalam join program ataupun beli program. Sayang sekali..
Inilah Daftar Media Yang Kecenderungan Mendukung Capres
Jum'at, 06 Juni 2014 16:44 WIB
Inilah Daftar Media Yang Kecenderungan Mendukung Capres
Peran media dalam demokrasi terkini sangatlah penting, media juga menjadi corong kandidat dalam sebuah pemilihan walaupun sebetulnya adalah hal yang salah karena media seharusnya berimbang apalagi media mainstream seperti televisi dan koran.