Saatku Sombong Didepan Hajar Aswad Masjidil Haram

Saatku Sombong Didepan Hajar Aswad Masjidil Haram

Jum'at, 23 Desember 2011 05:14 WIB | 6.650 Views 2011-12-23 05:14:21

Rasa perih terasa dikaki, aku tidak sadar sama sekali bahwa kakiku terluka oleh sesuatu. Akhirnya, setelah memutuskan untuk keluar dari beratnya desakan orang-orang besar ditimur tengah itu aku baru sadar bahwa kakiku mengeluarkan darah.


Malam hari tiba di Masjidil haram membuat kami memutuskan untuk tidak mencium hajar aswad terlebih dahulu, kami tiba sekitar pukul 2 dinihari, dari hotel yang berjarak sekitar 500 meter dari masjidil haram membuat kami harus menggunakan mobil shuttle yang memang disediakan hotel, sebenernya kalau jalan juga dekat hanya memang karena sedang ada pembangunan di masjidil haram membuat jalan berdebu dan tidak enak dimata.

Disertai dengan tangisan, akhirnya rombongan kami yang didominasi oleh orang sepuh tiba dimasjidil haram, lantas kami menyegerakan umrah dengan tawaf hingga tahalul. Saat tahalul selesai, adzan subuh berkumandang, hal inilah yang membuatku memutuskan untuk mencium hajar aswad esok hari saja, oh iya..mencium hajar aswad tidak masuk dalam rukun umrah, hanya memang rosul mencontohkan. Bahkan kalau tidak salah Ummar bin Khatab pernah berkata bahwa "Aku tidak tau apa manfaat dan mudharatnya mencium batu itu, hanya memang rosul melakukannya maka akupun begitu".

Perjalanan yang melelahkan mulai dari Delay Garuda Indonesia yang hampir 4 jam di Bandara Sukarno Hatta membuat kami kelelahan, seusai sholat subuh kami kembali ke hotel. Jam 10 tepat kami bangun dan mandi dan siap-siap bergegas ke masjidil haram kembali. Kali ini saya masih punya PR, yaitu mencium hajar aswad...hemm...melihat kerumunan orang yang mencium hajar aswad rasanya gampang-gampang saja. Akhirnya aku turun ke lantai tempat tawaf dan bertawaflah hingga selesai, diakhir putaran setelah sholat sunat saya coba mendekat ke arah Hajar aswad, mulai masuk dan masuk, ah ternyata gampang tidak seperti yang diceritakan orang orang...sudah dekat...sudah dekat...aaaaaaaaaah...badan ini terpental lagi keluar...saya coba masuk lagi...sudah hampir sedikit lagi...aaahhhh..terdorong lagi keluar......saya coba sekali lagi....kali ini hampir sampai.......ahhhhhhh...perih dikakiku terasa...ternyata kakiku berdarah menginjak nametageku sendiri yang pecah jatuh...akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari barisan....akhirnya aku kehilangan nametag dihari pertamaku...akupun kesamping kearah kumpulan galon-galon air zam-zam untuk membersihkan luka...perih....niat keduaku untuk mencium hajar aswad...gagal lagi.

Makan siang menanti ternyata dihotel, kamipun lantas pulang. Oh iya..aku sekamar dengan seorang pimpinan ponpes asal Lampung...saat aku cerita pengalamanku ada satu hal yang membuat lemas saat itu...ia bilang begini "Mas Adi tuh sombong...merasa bisa dengan tenaga sendiri...bahkan saya pikir mas adi melakukannya tanpa Bismillah" ....jeplak...ke hati...benar juga....akhirnya aku baru sadar bahwa telah salah langkah... akhirnya setelah makan siang...saya coba kembali ke masjidil haram....

Bismillahirahmanirahiim...

Ya Allah..ternyata saat saya tiba lokasi sekitar kabah sedang dipel dengan berputar dan dibatasi oleh pembatas warna kuning...dan luar biasa...hanya ada beberapa ibu-ibu tua yang sedang asyik mencium hajar aswad...akupun mendekat....dan cup cup cup....mudah sekali...gak harus berdesak-desakan sampai berdarah....kamipun sempat berlama-lama tanpa dimarahi oleh Askar, polisi arab yang tinggi besar itu...akupun gak kuat untuk menangis....kesombongan memang bukan solusi...menyesal rasanya diri...didepan rumah Allahpun masih bisa sombong..apalagi jauh dari rumah Allah...


Adi Sumaryadi Online Media




Berikan Komentar Via Facebook

Berikan Komentar Via Disqus
comments powered by Disqus

Cerita dan Kisah Lainnya
Kisahku Di Pagi Hari Valentine
Jum'at, 06 Februari 2009 09:08 WIB
Kisahku Di Pagi Hari Valentine
Tradisi Valentine rupanya mulai membudaya dikalangan orang-orang luar barat termasuk indonesia, saya mulai mengenal valentine saat kelas 1 smu dulu ketika teman-teman dan kakak kelas saling bertukar coklat sebagai tanda kasih sayang diantara mereka. Namun, saya tumbuh dikeluarga yang benar-benar "garing" dan tak kenal sesuatu yang berbau celebritas atau perayaan seperti itu. Dan sayapun punya kisah yang berhubungan dengan valentine.
Kiat Mendapatkan Sebuah Esensi
Minggu, 24 Agustus 2008 10:12 WIB
Kiat Mendapatkan Sebuah Esensi
Saya Mendapat pengalaman berharga hari ini, sebuah jawaban istimewa dari Dosen Saya, Pak Witarto. Esensi, begitulah sebuah kata yang terucap berulang-ulang dilontarkan orang-orang berilmu, setiap aktifitas dan kegiataan yang kita temui dan lakukan tentu diharapkan ada sebuah esensinya, dengan kata lain ada makna yang harus didapat untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita, tidak terkecuali bagi kita yang masih berusaha mencari sebuah esensi dari Matakuliah yang sedang dipelajari dikampus.
Cerita Sore Saat Jual Mie Ayam
Senin, 04 Juni 2007 20:30 WIB
Cerita Sore Saat Jual Mie Ayam
Tidak seperti biasanya, sabtu sore saya belum dapat uang , bingung memang,bagaimana tidak, mie ayam yang harus habis saat itu juga belum habis dan terbanyang berapa bahan mie ayam beserta bumbu-bumbunya yang harus dimakan sendiri. Saya juga bertanya, kenapa sepi? padahal hari ini adalah weekend (saat itu belum tau istilah weekend). Akhirnya pasrah saja sambil berharap malem minggu dan minggu besok dapat uang yang banyak.
Perbincangan Guru dan Murid
Minggu, 08 April 2007 22:48 WIB
Perbincangan Guru dan Murid
Pernahkan sahabat membayangkan perbincangan seorang guru dan seorang murid yang jarang sekali terjadi dan mungkin bahkan sulit untuk menemukan perbincangan yang panas ini. Diceritakan ada seorang guru sedang mengajar didepan kelasnya, murid yang diajarkannyapun masih anak SMP yang belum tau banyak, perbincangan mereka adalah sebagai berikut :